Penerapan geotextile dan geomembrane di pembangunan Pabrik BioCNG (Industri kelapa sawit di Indonesia, di Provinsi Riau), untuk filtrasi, perkuatan tanah, dan menahan pencampuran limbah. Sebagai yang berperan di proyek ini, KIS Group bekerja sama dengan AEP Group memulai pembangunan pabrik BioCNG® di Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Riau.
Proyek pembangunan ini pertama di Riau yang mengubah limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi energi terbarukan seperti BioCNG.
Demi kelancaran pembangunan dari segi infrastruktur (fondasi) sekaligus ramah lingkungan, harus ada material bantuan yang bisa memperkuat struktur tanah dasar, filtrasi, dan pemisahan cairan. Hal itu bisa menggunakan material geosintetik, seperti geotextile dan geomembrane.
Lalu, seperti apa penerapan dari kedua material geosintetik ini?
Di artikel Urban Plastic ini, kami akan membahasnya dengan tantangan serta dimana tempat untuk memilih keduanya.
Overview dan Peran Proyek Pembangunan Pabrik BioCNG
Pabrik BioCNG ini dirancang untuk menghasilkan sekitar 142.450 MMBTU per tahun, yang diperkirakan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca sampai 70.085 ton setara CO₂ per tahun.
BioCNG yang dihasilkan dari POME memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif yang melengkapi CNG dari gas alam yang ada saat ini. Caranya dengan menangkap emisi metana dari limbah cair dari pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) PT Bina Pitri Jaya.
Pembangunan ini bisa menjadi contoh model untuk pabrik kelapa sawit lainnya di Riau dan sekitarnya yang biasanya merusak lingkungan bisa diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat.
Tantangan Pembangunan Pabrik BioCNG Tanpa Penerapan Geotextile dan Geomembrane
Membangun pabrik dengan teknologi ramah lingkungan seperti BioCNG memiliki beberapa tantangan dan kendala. Struktur fasilitas harus mampu menahan limbah cair yang sifatnya korosif sekaligus menjaga sistem penyimpanan dan pengolahan gas.
Kondisi tanah di Tapung Hilir, yang bervariasi mulai dari tanah lunak sampai area rawa, maka butuh material pendukung geosintetik seperti geotextile dan geomembran.
Geotextile berguna untuk menstabilkan tanah, memisahkan lapisan tanah berbeda, dan memfasilitasi drainase. Dengan begitu, risiko penurunan atau deformasi fondasi pabrik bisa diminimalkan.
Sementara itu, geomembrane untuk mencegah kebocoran dan rembesan limbah cair dari tangki penyimpanan atau kolam penampung POME atau area sekitarnya.
Penerapan Geotextile dan Geomembrane di Pembangunan Pabrik BiCNG, Riau
Di proyek pabrik BioCNG Tapung Hilir, ada beberapa penerapan geosintetik (geotextile dan geomembran), yakni:
Penerapan Geotextile
Untuk peran geotextile baik yang woven dan non woven Inilah fungsi geotextile yang sangat penting:
-
Pemisahan Lapisan Tanah
Geotextile memisahkan dua jenis material dengan karakteristik berbeda. Sehingga menghindari kontaminasi antar lapisan dan mempertahankan stabilitas struktur atau fondasi tanah.
-
Stabilisasi Tanah
Geotextile memperkuat tanah dasar dengan mendistribusikan beban di bawahnya. Sehingga struktur tanah timbunan bisa menahan beban berat pabrik tanpa risiko deformasi.
-
Drainase dan Filtrasi
Dalam kondisi tanah basah atau berair, geotextile memungkinkan air meresap dan mengalir keluar tanpa membawa partikel tanah. Hal itu mencegah tekanan air berlebih yang bisa mengganggu stabilitas struktur tanah.
Penerapan Geomembrane
Geomembrane tugasnya lebih berkaitan dengan pengendalian air atau bahan limbah, secara detail sebagai berikut:
-
Pengendalian Rembesan Air
Geomembrane melapisi kolam penampungan POME dan tangki penyimpanan untuk mencegah rembesan atau kebocoran yang bisa mencemari lingkungan sekitarnya. Sehingga efisiensi penggunaan air di pabrik jadi meningkat dan lingkungan tidak mudah tercemar oleh limbah.
-
Proteksi Lingkungan
Pada area landfill atau tempat pembuangan akhir, geomembrane menjaga agar bahan berbahaya tidak mencemari tanah dan air tanah di sekitarnya. Penggunaan geomembrane bisa meningkatkan efisiensi dan mencegah masalah lingkungan yang lebih besar ke depannya, terutama yang berhubungan dengan pengelolaan air.
Dampak Penerapan Geotextile dan Geomembrane pada Lingkungan dan Industri
Proyek ini punya dampak pada lingkungan dan industri kelapa sawit yang ada di Riau.
Selain mengurangi emisi gas rumah kaca, BioCNG memberikan alternatif energi ramah lingkungan yang bisa digunakan oleh pabrik. Sehingga mengurangi industri kelapa sawit di Riau agar mengurangi ketergantungan ke bahan bakar fosil.
Pilihan Geotextile dan Geomembrane di Urban Plastic
Pengiriman material geosintetik seperti geotextile dan geomembrane untuk kebutuhan pembangunan pabrik BioCNG di Tapung Hilir ini.
Sebagai produsen dan supplier produk plastik dan material geosintetik di Indonesia, PT Urban Plastik Indonesia (Urban Plastic) berkomitmen untuk selalu support kelancaran proyek ini.
Hal itu karena geotextile dan geomembran punya peran dan fungsi untuk perkuatan struktur tanah, melindungi dari deformasi tanah, filtrasi atau penyaringan, serta mengendalikan bercampurnya limbah dengan lingkungan sekitar.
Frequently Asked Question (FAQ)
1. Apa Itu BioCNG?
BioCNG adalah biometana yang dihasilkan dari limbah cair pabrik kelapa sawit (POME).
Gas ini dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, menggantikan sebagian penggunaan gas alam saat ini.
2. Mengapa Pembangunan BioCNG Menggunakan Geotextile dan Geomembrane?
Geotextile digunakan untuk menstabilkan tanah, memisahkan lapisan tanah berbeda, dan memfasilitasi drainase. Geomembrane digunakan untuk mencegah rembesan limbah cair, menjaga lingkungan tetap aman dari kontaminasi.
3. Berapa Besar Pengurangan Emisi dari Pabrik BioCNG?
Proyek ini diperkirakan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 70.085 ton setara CO₂ per tahun. Hal itu berkontribusi pada mitigasi/pencegahan perubahan iklim di sektor industri kelapa sawit.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Geomembrane merk Urban Plastic, silahkan hubungi melalui: Whatsapp/Mobile Phone : +62 811 1721 338 (Ais) atau: Email: info@urbanplastic.id