Daerah Istimewa Yogyakarta luasnya tidak sampai 3.200 kilometer persegi, tapi kondisi tanahnya berbeda-beda sekali dari satu kabupaten ke kabupaten lain.

Ada lereng gunung api muda yang materialnya pasir dan kerikil. Ada perbukitan batu gamping berongga. Ada juga dataran rendah yang tanahnya relatif rapat. Akibatnya, pertanyaan apakah sebuah embung perlu dilapisi geomembrane tidak punya satu jawaban untuk seluruh DIY. Jawabannya tergantung embungnya berdiri di atas apa. Dan inilah yang sering disamaratakan ketika orang membandingkan satu proyek dengan proyek lain.

Kenapa DIY Punya Begitu Banyak Embung

Persoalan airnya bukan soal curah hujan. Hujan di Yogyakarta sebenarnya cukup. Masalahnya pada distribusi waktu. Air melimpah selama beberapa bulan musim hujan, lalu nyaris hilang selama musim kemarau. Petani yang punya air berlebih di bulan Januari bisa kesulitan menyiram kebunnya di bulan Agustus.

Embung menjawab persoalan itu dengan cara sederhana: tampung saat berlebih, pakai saat kurang. Karena itu embung dibangun di banyak titik, dari lereng Merapi sampai perbukitan selatan. Yang membedakan satu embung dengan yang lain bukan konsepnya, melainkan seberapa keras tanah di lokasinya berusaha membuang air yang baru saja ditampung.

Peta Singkat Kondisi Tanah di DIY

Sleman dan Lereng Merapi

Material di lereng Merapi sebagian besar berupa pasir, kerikil, dan batuan lepas hasil aktivitas gunung api. Bahan seperti ini sangat baik meloloskan air, dan itu sebabnya daerah resapan di sana penting untuk cadangan air tanah.

Tapi sifat yang bagus untuk resapan justru menyulitkan untuk penampungan. Embung yang dibangun di atas material lepas semacam ini akan kehilangan airnya dengan cepat kalau tidak ada lapisan penahan.

Semakin ke atas, semakin kasar materialnya, dan semakin besar pula kebutuhan lapisan kedapnya.

Gunungkidul Bagian Selatan

Ini kawasan karst Gunung Sewu, dan tantangannya paling berat di antara semuanya. Batu gamping bisa larut perlahan oleh air, dan selama ribuan tahun proses itu membentuk celah, rongga, dan saluran di bawah permukaan. Air permukaan di sana tidak mengalir ke sungai seperti di tempat lain, melainkan hilang ke bawah tanah lewat celah-celah tersebut.

Membangun embung di kawasan ini tanpa lapisan kedap hampir pasti sia-sia. Memadatkan tanah dasarnya pun tidak banyak membantu, karena masalahnya ada di batuan di bawahnya, bukan di tanah penutupnya.

Gunungkidul Bagian Utara

Berbeda dari bagian selatan, kawasan Patuk dan sekitarnya berupa perbukitan batuan volkanik tua, bukan batu gamping.

Di sini airnya tidak hilang lewat rongga pelarutan, tapi lewat retakan pada batuannya. Hasilnya tetap sama, air sulit ditahan, meski penyebab geologinya berbeda. Banyak embung di kawasan ini juga dibangun di puncak bukit, yang menambah satu tantangan lagi: tidak ada lapisan lempung alami yang bisa diandalkan, dan air yang lolos langsung turun mengikuti gravitasi.

Kulon Progo

Perbukitan Menoreh didominasi batuan volkanik tua yang sudah lapuk. Di beberapa tempat pelapukannya menghasilkan lapisan lempung yang cukup rapat, di tempat lain batuannya masih retak dan meloloskan air.

Karena bervariasi, kawasan ini paling membutuhkan penyelidikan tanah sebelum memutuskan. Dua lokasi yang jaraknya tidak jauh bisa memberi hasil yang berbeda.

Bantul dan Dataran Rendah

Dataran rendah di Bantul sebagian besar berupa endapan aluvial dengan kandungan lempung yang lebih tinggi. Di lokasi seperti ini, tanah kadang sudah cukup rapat untuk menahan air tanpa lapisan tambahan.

Tapi ini tidak otomatis. Sebagian area tetap berpasir, dan sebagian lagi berada dekat dengan perbukitan yang kondisinya berbeda lagi. Keputusannya tetap datang dari hasil penyelidikan, bukan dari asumsi karena lokasinya di dataran rendah.

Geomembrane

Jadi Kapan Embung Butuh Geomembrane?

Kalau tanah dasarnya berupa material lepas seperti pasir dan kerikil, atau batuan yang retak dan berongga, lapisan kedap hampir selalu diperlukan. Lereng Merapi dan perbukitan Gunungkidul masuk kategori ini.

Kalau embung dibangun di puncak atau lereng bukit, kebutuhannya meningkat lagi, karena air yang lolos tidak akan berhenti di sekitar embung melainkan terus turun.

Kalau tanah dasarnya lempung tebal dan rapat, kadang memang tidak perlu. Tapi ketebalan dan kemenerusan lapisan lempungnya harus dibuktikan lewat penyelidikan, bukan diperkirakan dari warna tanah di permukaan. Yang jelas, keputusan ini sebaiknya diambil setelah ada data, bukan setelah embungnya selesai dibangun lalu ternyata tidak bisa menahan air.

Yang Terjadi Setelah Terpasang Geomembran

Bagian ini jarang dibahas, padahal cukup menentukan umur sebuah embung.

Geomembrane yang terpasang dengan benar bisa bekerja bertahun-tahun, tapi dia tetap butuh diperhatikan. Beberapa hal yang perlu diperiksa secara berkala:

Bagian di atas garis muka air adalah yang paling cepat menua, karena terpapar matahari penuh saat volume air surut. Kalau desainnya memungkinkan, bagian ini sebaiknya tertutup urugan atau pelindung lain.

Tepi atas tempat lembaran dijangkarkan perlu dicek apakah masih tertanam baik. Parit penjangkaran yang tergerus air hujan lama-lama melemahkan tahanannya.

Sobekan kecil akibat benda tajam atau aktivitas di sekitar embung sebaiknya ditambal sebelum melebar. Di embung yang juga jadi tempat kunjungan warga, risiko ini lebih besar. Dan yang paling sederhana, perhatikan pola penurunan muka airnya. Penurunan yang jauh lebih cepat dari biasanya pada musim yang sama adalah tanda awal ada kebocoran, dan jauh lebih mudah ditangani saat masih kecil.

Kenapa Sebagian Embung Berhenti Berfungsi

Penyebabnya biasanya bukan satu hal. Kadang memang kebocoran yang tidak pernah ditangani. Kadang sumber air masuknya yang berkurang, misalnya mata air yang mengecil atau saluran pengisi yang tersumbat. Kadang tidak ada pihak yang jelas bertanggung jawab merawatnya setelah pembangunan selesai.

Lapisan kedap menyelesaikan satu dari beberapa persoalan itu, yaitu air yang hilang ke bawah. Dia tidak menyelesaikan persoalan pasokan air masuk maupun persoalan pengelolaan. Jadi dalam perencanaan, ketiganya sebaiknya dipikirkan bersamaan: dari mana airnya datang, bagaimana menahannya, dan siapa yang akan merawatnya.

Geomembrane

Kondisi Lokasi Menentukan Lebih Banyak daripada Mereknya

Penggunaan geomembrane embung di Yogyakarta sebenarnya cerita tentang keragaman kondisi tanah di wilayah yang tidak terlalu luas.

Embung di lereng Merapi, di perbukitan karst Gunungkidul, dan di dataran Bantul menghadapi tantangan yang berbeda, dan kebutuhan lapisan kedapnya juga berbeda. Menyalin spesifikasi dari proyek di kabupaten lain adalah cara yang paling sering membuat perkiraan meleset.

Urutan yang masuk akal selalu sama. Lakukan penyelidikan tanah lebih dulu, tentukan apakah lapisan kedap memang dibutuhkan, lalu susun spesifikasinya berdasarkan kedalaman air, kondisi dasar, dan apakah lapisannya akan tertutup atau dibiarkan terbuka. Dan setelah terpasang, sediakan waktu untuk memeriksanya sesekali. Embung yang airnya bertahan sampai akhir kemarau biasanya bukan yang materialnya paling mahal, melainkan yang perencanaan dan perawatannya paling diperhatikan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Geomembrane merk Urban Plastic, silahkan hubungi melalui: Whatsapp/Mobile Phone : +62 822 9933 3938 (Panni) atau: Email: info@urbanplastic.id