Kabupaten Ponorogo terus berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan sampah melalui pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) baru sebagai pengganti TPA Mrican. Rencana ini sudah dicanangkan sejak pertengahan tahun 2025 lalu dengan mengaplikasikan geotextile non woven dan geomembrane untuk melindungi lingkungan sekitarnya dari pencemaran air tanah
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup, yakni beralih dari sistem open dumping menuju sanitary landfill.
Kondisi TPA Mrican Ponorogo Terbaru
Selama bertahun-tahun, TPA Mrican menjadi lokasi utama pembuangan sampah di Kabupaten Ponorogo. Setiap harinya, puluhan ton sampah rumah tangga maupun sampah dari berbagai aktivitas masyarakat masuk ke kawasan tersebut.
Namun, meningkatnya volume sampah menyebabkan kapasitas TPA semakin terbatas. Kondisi ini diperparah dengan sistem pengelolaan lama yang masih menerapkan metode open dumping, sehingga menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan seperti bau, genangan lindi, hingga potensi pencemaran tanah dan air.
Solusi dari Pemerintah Daerah Ponorogo
Sebagai solusi sementara, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo mulai menerapkan sistem urug saniter (sanitary landfill sederhana) dengan menutup timbunan sampah menggunakan tanah urug untuk mengurangi dampak lingkungan.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Ponorogo juga menyiapkan pembangunan TPA baru di kawasan Desa Mrican dengan luas sekitar 9 hektare. Proyek tersebut dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti landfill, kolam pengolahan lindi, drainase, kantor operasional, serta sistem pengelolaan sampah yang lebih modern.
Aplikasi Geotextile Non Woven dan Geomembrane untuk Pembangunan TPA Baru Ponorogo
Salah satu material paling penting dalam pembangunan sanitary landfill adalah Geomembrane HDPE dan Geotextile non woven. Material ini merupakan lembaran polimer kedap air yang dirancang untuk menjadi penghalang, agar cairan lindi (leachate) hasil dekomposisi sampah tidak meresap ke dalam tanah maupun mencemari air tanah di sekitarnya.
Sedangkan Geotextile non-woven, dipasang di bawah maupun di atas geomembran untuk melindungi lapisan kedap air dari kerusakan akibat batuan tajam, tekanan tanah, maupun aktivitas alat berat selama proses konstruksi.
Aplikasi Geomembrane di Proyek TPA Ponorogo
Pada proyek TPA Ponorogo, penggunaan Geomembrane HDPE ketebalan 1,5 mm menjadi pilihan yang ideal karena memiliki ketahanan tinggi terhadap bahan kimia, tekanan timbunan sampah, paparan sinar ultraviolet (UV), serta perubahan suhu dan cuaca.
Material ini juga memiliki umur pakai yang panjang sehingga mampu memberikan perlindungan optimal selama masa operasional TPA.
1. Base dan Side Slop Liner
Penggunaan utama material ini di proyek TPA Ponorogo, yakni sebagai base liner landfill untuk menjadi penghalang utama agar air lindi tidak meresap ke dalam tanah. Selain itu, diaplikasikan juga pada side slope liner, supaya dapat melindungi dinding timbunan sampah dari potensi kebocoran akibat aliran lindi.
2. Kolam Penampungan
Selain itu, Geomembrane HDPE juga diaplikasikan sebagai kolam penampungan lindi dan air hujan di sekitar TPA. Biasanya kolam penampungan lindi ini sekaligus dilakukan pengolahan (leachate pond), sehingga cairan hasil penguraian sampah dapat ditampung dan diolah sebelum dibuang ke lingkungan.
Sedangkan kolam penampungan air hujan, akan dibuat secara terpisah untuk membantu mengendalikan limpasan air di kawasan TPA.
3. Penutupan Akhir (Final Cover System)
Aplikasi ini biasanya dilakukan pada landfill yang telah penuh untuk mengurangi infiltrasi air hujan, mengendalikan pembentukan lindi baru, sekaligus membantu mengurangi emisi gas dari timbunan sampah.
Aplikasi Geotextile Non Woven 400 gsm di Proyek TPA Ponorogo
Selain geomembran, pembangunan sanitary landfill juga memerlukan Geotextile Non Woven 400 gsm sebagai lapisan pelindung (protection layer).
Material geosintetis ini dipasang di bawah maupun di atas geomembran untuk melindungi lapisan kedap air dari kerusakan akibat batuan tajam, tekanan timbunan sampah, maupun aktivitas alat berat selama proses konstruksi dan operasional TPA.
Dalam konstruksi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Ponorogo, Geotextile Non Woven 400 gsm diaplikasikan pada beberapa bagian penting, seperti:
1. Lapisan Pelindung di Atas dan Bawah Geomembrane
Geotextile Non Woven ini akan dipasang di atas permukaan tanah dasar sebelum geomembrane dibentangkan. Setelah geomembran terpasang, barulah geotextile lain dapat dipasang kembali di bagian atasnya
Metode ini paling urgent untuk dilakukan agar dapat mencegah lapisan geomembrane rusak akibat batu tajam, akar, permukaan tanah yang tidak rata, serta aktivitas alat berat saat proses konstruksi.
2. Lereng Landfill
Sedangkan untuk area miring atau lereng landfill, geotextile juga wajib diaplikasikan untuk membantu menjaga kestabilan lapisan geosintetik yang sudah terpasang sebelumnya. Adanya penambahan material ini dapat mengurangi risiko pergeseran lapisan secara signifikan akibat tekanan tanah, sampah, maupun aliran air.
Dengan gramasi 400 gsm, geotekstil ini sangat sesuai digunakan pada proyek landfill skala besar seperti proyek TPA baru Ponorogo yang membutuhkan perlindungan ekstra, terutama pada area dengan timbunan sampah yang tinggi dan lalu lintas alat berat yang intensif.
Kombinasi material geomembrane dan Geotextile Non Woven 400 gsm sebagai lapisan pelindung ini dinilai paling efektif dalam membantu sistem landfill menjadi lebih aman, tahan lama, serta mampu memberikan perlindungan lingkungan secara optimal, khususnya untuk area pemukiman di sekitarnya.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Geomembrane merk Urban Plastic, silahkan hubungi melalui: Whatsapp/Mobile Phone : +62 811 1721 338 (Ais) atau: Email: info@urbanplastic.id